Followers

Wednesday, May 1, 2013


MAKALAH
SISTEMATIKA HEWAN INVERTEBRATA
POLYCHAETA DAN HIRUDINEA
KELOMPOK 5
KELAS 3 E
1.    SUSANTI                         01021160119
2.    ERNIZAH                        01021160
3.    SUSILOWATI                             01021160
4.    VERA GUSNITA               01021160
5.    KUKUH PRASETYA                   01021160


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDY BIOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BENGKULU
2011
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.Semoga Makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam pembelajaran tentang “POLYCHAETA DAN HIRUDINEA”.
Harapan kami semoga Makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi Makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik lagi.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang.Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan Makalah ini.


Bengkulu,16 November 2011

                                                                                                penulis






BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
          Annelida berarti “cincin” kecil dan tubuh bersegmen yang mirip dengan serangkaian cincin yang menyatu merupakan ciri khas cacing filum Annelida.Terdapat sekitar 15.000 spesies filum Annelida, yang panjangnya berkisar antara kurang darti 1 mm sampai 3 m pada cacing tanah Australia. Anggota filum Annelida hidup di laut , dan sebagian habitat air tawar, dan tanah lembab, kita dapat menjelaskan anatomi filum Annelida menggunakan anggota filum yang terkenal, yaitu cacing tanah.
          Filum Annelida merupakan cacing selomata berbentuk gelang yang memiliki tubuh memanjang, simeffi bilatiral, bersegmen, dan permukaannya dilapisi kutikula.Dinding tubuh dilengkapi otot.Memiliki prostomium dan sistem sirkulasi.Saluran pencernaan lengkap.Sistem ekskresi sepasang nephridia di setiap segmen.Sistem syaraf tangga tali.Sistam respirasi terdapat pada epidermis.Reproduksi monoesis atau diesis dan larvanya trokofor/veliger.Kebanyakan untuk cacing Annelida hidup akuatik di laut dan terestrial di air tawar atau darat.Filum Annelida dibagi menjadi kelas Polychaeta, Oligochaeta, dan Hirudinea.pembagian ke dalam kelas terutama didasarkan pada segmentasi tubuh. seta, parapodium, sistem sirkulasi, ada tidaknya batil isap, dan sistem reproduksi’
Filum Annelida terbagai kedalam tiga kelas yaitu: 1) kelas oligochaeta (cacing tanah dan kerabatnya), 2) kelas polychaeta, 3) kelas Hirudinea (lintah).
B . Rumusan Masalah
1.      Apa saja karakteristik dan struktur tubuh dari polychaeta dan hirudinea ?
2.      Bagaimana dengan alat gerakk, system respirasi, pencernaan , reproduksi, saraf dan indra serta ekskresi dari polychaetaa dan hirudinea?

C . Tujuan Masalah
1.      Agar pembaca mengetahui karakteristik serta struktur tubuh dari polychaeta dan hirudinea
2.      Agar pembaca mengetahui alat gerak, system respirasi, pencernaan, reproduksi, saraf dan indra serta ekskresi dari polychaeta dan hirudinea .













BAB II
PEMBAHASAN

1 . POLYCHAETA
Karakteristik Polychaeta
          Polychaeta adalah cacing berambut banyak. Cacing ini umumnya hidup dilaut. Seluruh permukaan tubuh polychaeta mengandung rambut-rambut kaku atau seta yang  dilapisi kutikula sehingga licin dan kaku.Tubuhnya berwarna menarik, seperti ungu  kemerah-merahan. Setiap segmen tubuh polychaeta dilengkapi dengan sepasang alat  gerak atau alat  berenang yang disebut  parapodia. Alat ini pun berperan sebagai alat  pernafasan. Sebagian besar berukuran 5-10 cm, tetapi ada yang kurang dari 1 mm dan ada juga yang mencapai 3 m.

struktur tubuh
            contohnya :Nereis virens, hewan ini memilki 200 ruas atau lebih. Kepala dapat dibedakan dari bagian tubuh lainnya.Bagian kepala ini dibentuk oleh prostomium( ruas I ) dan peristomium ( ruas II ).
Pada prostomium ini etrdapat dua buah tentakel prostomium, sepasang palpus , dan dua pasang bintik mata. Sedangkan pada peristomium terdapat empat pasang tentakel yang berfungsi sebagai organ sensori terhadapa sentuhan , rasa , menghindari predator dan aktivitas lainnya.
Terdapat lobus pipih pada setiap sisi dari masing-masing ruas yang disebut parapodium yang memiliki cirrus , lobus repirasi dan rambut.    
            Proses respirasi , ekskresi , peredaran darah dan system syaraf pada polychaeta hampir sama dengan yang dimiliki oleh olygochaeta ,yang sedikit berbeda adalah dalam reproduksinya.
Golongan polychaeta pada umumnya dan nereis virens pada khususnya merupakan hewan berumah dua , tidak memiliki klitelum dan pembuahannya secara aseksual. Sel telur yang telah dibuahi akan berkembang menjadi larva yang disebut trochophora.

Alat Gerak
• Pergerakan disebabkan oleh perpaduan gerak antar parapodia, otot dinding tubuh & cairan rongga tubuh.
• Gerak undulating mengakibatkan cacing dapat menjalar & berenang dengan cepat.
Sistem Respirasi
• Bernafas dengan insang
• Pertukaran gas via permukaan tubuh juga terjadi
• Beberapa jenis tiap ruas terdapat insang, kecuali ujung anterior & posterior
• Pada cacing yang mengalami modifikasi, jumlah & letak insang terbatas pada ruas tertentu.



 Sistem Pencernaan
• Cara makan sesuai dengan kebiasaan hidup
• Raptorial feeder: avertebrata kecil ditangkap dengan pharink/probosis yang dijulurkan, terdapat rahang kitin
• Deposit feeder: menelan pasir & lumpur dalam lorong; bahan organik dicerna & partikel mineral dikeluarkan via anus, atau melalui tentakel cilia yang berlendir
• Filter feeder: tidak punya probosis tutup kepala dilengkapi radiola untuk menyaring detritus & plankton.
Sistem Reproduksi
Reproduksi Seksual
• Dioesious & monoesious
• Seksual via fertilisasi eksterna (ovum & sperma di lepas di air). Zigot → trokofor → juvenil
Reproduksi Aseksual
• Pada Cirratulidae, Sabellidae, Spionidae & Syllidae (Tunas/Budding) dari parapodia. bagian tubuh menjadi dua bagian.
• Epitoksi (pembentukan individu reproduktif) merupakan fenomena reproduksi khas polychaeta—hewan tampak jadi dua bagian.
Saraf dan Indera
•Sistem saraf tangga tali
• Alat indera utama: mata, “nuchal organ” & statocyst
• Mata berkembang baik (errantia), bintik mata/tidak ada (sedentaria)
• Fungsi mata: fotoreseptor
• Nuchal organ: kemoreseptor untuk mendeteksi makanan
• Sel peraba terdapat diseluruh tubuh, terutama parapodia & kepalaSistem syaraf, indera & sirkulasi
Sistem Ekskresi
• Cacing yang tidak mempunyai pembuluh darah: protonefridia solenosit
• Cacing yang mempunyai pembuluh darah: metanefridia
- Nefrostom: corong bersilia
- Nefridial kanal: pembuluh ekskresi
- Nefridiophor: lubang ekskresi, bermuara pada neuropodium
• Nefridia juga berfungsi sebagai alat osmoregulasi

Beberapa contoh polychaeta yang penting yaitu :
1.      Eunice viridis atau cacing wawo
2.      Lysidice oele atau cacing palolo
3.      Neanthes virens,dan
4.      Nereis virens
GAMBAR. Cacing palolo

2 .HIRUDINEA
Hirudinea merupakan cacing penghisap darah  atau golongan lintah. Hidupnya ada yang di air, ada pula yang didarat.
Gambar.hiruda medicinalis

Karakteristik  hirudinea:
•          Panjang tubuh mencapai 30 cm
•          Tubuh dilindungi oleh lapisan kutikula
•          Tubuh relatif pipih
•          Tubuh terdiri dari 34 segmen
•          Tidak mempunyai parapodia dan seta
•          Mempunyai alat penghisap (sucker) di bagian anterior maupun posterior
•          Bersifat hermafrodit
•          Habitat: air tawar dan darat

Tubuhnya memiliki dua buah sucker yaitu sucker anterior dan posterior yang berfungsi untuk menempelkan diri pada mangsa atau penghisap makanan.
Tubuhnya ditutupi oleh kutikula yang disekresikan oleh bagian epidermis. System ototnya sangat kuat sehingga hewan ini sangat kenyal.

            Makanan hirudinea ini adalah darah atau cairan tubuh mamalia .cairan tersebut dihisap oleh sucker sebanyak-banyaknya  sehingga ia mampu bertahan tidak makan selama beberapa minggu. Dengan demikian dengan struktur alat pencernaan makanannya crop (tembolok) merupakan bagian yang paling berkembang.
Jika melekat dan menghisap darah, cacing ini mengeluarkan zat anestesi. Cacing ini juga menghasilkan zat anti koagulan  sehingga darah korban tidak membeku. Darah korban dihisapnya hingga tubuhnya menggembung.Setelah kenyang lintah menjatuhkan tubuhnya ke air.
Respirasi , ekskresi dan peredaran darah tidak begitu berbeda dengan olygochaeta maupun polychaeta.
Reproduksi pada golongan hirudinea hampir sama dengan annelid yaitu dengan cocoon.
Alat Gerak
• Sebagian aktif malam, juga siang.
• Bergerak dengan cara melekukkan badan, melekat dengan sucker
• Berenang dengan cara menggelombangkan badan.
Sistem Respirasi
• Menggunakan anyaman kapiler di bawah epidermis.
• Insang: Piscicolidae
Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan terdiri dari mulut, faring, tembolok, lambung, rektum, anus.Anus terletak pada bagian dorsal. Proses pencernaan  penghisap anterior ,mulut , faring , tembolok , usus ,usus buntu ,anus ,penghisap posterior.
• faring otot yang dilengkapi rahang bergigi /probosis berotot
Di kerongkongan tempat isapannya terdapat tiga rahang yang berbentuk seperti setengah gergaji yang dihiasi sampai 100 gigi kecil.Dalam waktu 30 menit lintah bisa menyedot darah sebanyak 15 ml – kuota yang cukup untuk hidupnya selama setengah tahun.Air ludahnya pun mengandung zat aktif yang sekurang-kurangnya berisi 15 unsur.Contohnya, zat putih telur hirudin yang bermanfaat untuk mengencerkan darah, dan mengandung penisilin.
Makanan & Pencernaan
• Lintah hidup sebagai pemakan bangkai/predator, parasit. Predator makan larva, keong, serangga, cacing.
• 75% penghisap darah, melekat/nempel pada permukaan tubuh vertebrata (ikan-manusia).
• Darah dihisap oleh faring otot & menampung dalam tembolok.  Enzim saliva (hirudin) mencegah koagulasi darah. Dalam 1 x makan, lintah mengisap darah 10x berat tubuhnya.
Sistem Reproduksi
• Monoceous
•  jantan: 4-12 pasang testis. 1 pasang ductus spermaticus.
• betina: 2 ovarium & Oviduct yang berhubungan dengan kelenjar albumin & vagina di median yang bermuara di belakang porus genitalia jantan
• Tidak ada tingkat larva
• Lintah membentuk kokon yang mengandung telur yang telah dibuahi & kokon akan diletakkan dalam air/tanah.
Saraf dan Indera
• Ruas 5 & 6 terdapat lingkar saraf ganglia: “otak”
• Alat indera: mata & papilla
• Mata: fotoreseptor
• Papilla & sensila: tonjolan kecil pada epidermis. Fungsi: alat peraba & perasa
Sistem Ekskresi
10-17 pasang nephridia.
BAB III
KESIMPULAN
            Polychaeta adalah cacing berambut banyak. Cacing ini umumnya hidup dilaut. Seluruh permukaan tubuh polychaeta mengandung rambut-rambut kaku atau seta yang  dilapisi kutikula sehingga licin dan kaku.Tubuhnya berwarna menarik, seperti ungu  kemerah-merahan.
Proses respirasi , ekskresi , peredaran darah dan system syaraf pada polychaeta hampir sama dengan yang dimiliki oleh olygochaeta ,yang sedikit berbeda adalah dalam reproduksinya.
Golongan polychaeta pada umumnya dan nereis virens pada khususnya merupakan hewan berumah dua , tidak memiliki klitelum dan pembuahannya secara aseksual. Sel telur yang telah dibuahi akan berkembang menjadi larva yang disebut trochophora.
Hirudinea merupakan cacing penghisap darah  atau golongan lintah. Hidupnya ada yang di air, ada pula yang didarat. Tubuhnya memiliki dua buah sucker yaitu sucker anterior dan posterior yang berfungsi untuk menempelkan diri pada mangsa atau penghisap makanan.
Respirasi , ekskresi dan peredaran darah tidak begitu berbeda dengan olygochaeta maupun polychaeta.
Reproduksi pada golongan hirudinea hampir sama dengan annelid yaitu dengan cocoon.








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………………..i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………………….ii

BAB I. PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG………………………………………………………………………………………1
B.      RUMUSAN MASALAH…………………………………………………………………………………1
C.      TUJUAN MASALAH…………………………………………………………………………………….2

BAB II. PEMBAHASAN
A.      Polychaeta…………………………………………………………………………………………………3
-          Karakteristik………………………………………………………………………………………..3
-          Alat gerak……………………………………………………………………………………………4
-          System respirasi, pencernaan, reproduksi……………………………………………4
-          Saraf dan indra…………………………………………………………………………………….5
-          System ekskresi……………………………………………………………………………………6
B.      Hirudinea…………………………………………………………………………………………………..7
-          Karakteristik…………………………………………………………………………………………7
-          Alat gerak…………………………………………………………………………………………….8
-          System respirasi, pencernaan, reproduksi…………………………………………….8
-          Saraf dan indra…………………………………………………………………………………….9
-          System ekskresi……………………………………………………………………………………9

BAB III. PENUTUP
A.      KESIMPULAN………………………………………………………………………………………........11

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………………….12

macam macam siklus




1. Siklus air
            Air merupakan media internal umum dari seluruh kehidupan, dan air juga merupakan  medium eksternal, khusus nya bagi seluruh bentuk kehidupan akuatik. Reservoir di atmospir ini selalu diperbaharui melalui proses evaporasi air dari permukaan bumi dan transpirasi yang dilakukan oleh tanaman. Didalam air memiliki suatu perjalanan  berupa siklus dimana air yang berada dilautan, danau, rawa atau sungai akan mengalami proses penguapan akibat dari panas bumi, demikian pula air dalam tumbuh-tumbuhan melalui proses transpirasi. Uap air hasil kedua hasil proses diatas akan terkumpul di atmosfer dan akan mengalami kondensasi dengan bentuk titik-titik air          (  terlihat sebagai awan ) akibat dari perbedaan temperatur. Bila awan tersebut telah jenuh, maka titik-titik air ini akan jatuh kepermukaan bumi sebagai hujan. Air hujan ini akan mengalir kembali kelaut, danau, rawa maupun sungai  dan sebagaian akan diserap  oleh tanah sebagai tanah dangkal. Proses ini akan terus berulang merupakan suatu siklus,sehingga dikenal sebagai siklus air  atau siklus hidrologi (hydros = air ) di dalam siklus hidrologi terdapat dua aspek penting , yaitu :
1.jumlah air yang menguap dari laut lebih banyak di bandingkan jumlah yang kembali melalui air hujan, sebaliknya terjadi pada daratan dimana jumlah air yang kembali lebih besar dari pada jumlah air yang menguap.
2.jumlah air yang hilang dari danau  dan sungai-sungai air tawar sangat besar, oleh karena itu penyimpanan air lebih baik diusahakan di lapisan penguapan air dari pada di danau dimana penguapan sangat tinggi .Perhatikan gambar dibawah ini :

2.Siklus karbon

            Siklus karbon dan siklus nitrogen merupakan dua contoh yng baik  untuk menerangkan siklus armosferik, karena sumber atau cadangan  utamanya terdapat diudara. Siklus karbon ini dikategorikan sebagai siklus atmosferik karena sebagian besar karbon memasuki biosfer melalui udara. Diperkirakan 0,003 sampai 0,004% udara mengandung karbon dioksida (CO2).

Keseimbangan karbon
            Karbon dioksida sedikit sekali terlarut dalam air, didalam larutan karbon dioksida dalam bentuk asam karbonat. Asam karbonat berasosiasi membentuk ion hidrogen dan ion karbonat.
Selanjutnya ion karbonat berdisosiasi membentuk ion hidrogen dan ion karbonat.ion bermuatan negatif bergabung dengan ion positif untuk membentuk berbagai garam seperti kalsium karbonat.





3.Siklus nitrogen

            Perbedaan dasar antara siklus nitrogen dan siklus karbon adalah bahwa seluruh tanaman hijau dapat mengekstraksi material dasar CO2 secara langsung dari udara, dilain pihak, sebagian besar tanaman hijau tergantung kepada beberapa jenis bakteri dan ganggang hijau-biru untuk mengkonversi nitrogen atmosfer kedalam bentuk yang dapat mereka gunakan.
            Siklus nitrogen merupakan ilustrasi yang baik untuk menggambarkan kompleksitas kepekaan alam, nitrogen atmoferik dapat berubah menjadi amoniak dan nitrat, (merupakan bentuk pertama yang dapat digunakan oleh tanaman) melalui dua proses. Halilintar dapat dicadangkan sebagai sumber energi sehingga nitogen atmosferik dengan oksigen bereaksi membentuk asam nitrat yang kemudian akan terbawah kedalam tanah melalui curahan hujan.
            Sebagian besar tanaman menyerap amoniak dan nitrat dari tanah melalui akarnya dan menyimpannya dalam bentuk protein, asam nukleat atau dalam bentuk senyawa kimia lainnya. Sebaliknya hewan mendapatkan berbagai bentuk bahan nitrogen organik dengan cara memakan tanaman dan membentuk senyawa nitrogen lainnya sesuai dengan kebutuhannya. Melalaui proses yang disebut dengan nitrifikasi garam amoniak dan amonium dikonfersi menjadi nitrit (NH4       dan  NO2) dan kemudian bakteri lain akan mengubah nitrit (NO2        dan     NO3). Selain itu terdapat juga bakteri yang dikenal dengan bakteri denitrifikasi, yang beberapa diantaranya mengubah nitrat menjadi nitrit, yang lain mengubah nitrit menjadi amoniak, dan yang lain mengubah nitrat menjadi nitrogen bebas atau nitrogen oksida.



4.Siklus Fosfor
            Litosfer merupakan sumber nutrisi cadangan terbanyak dan penting bagi berlangsungnya siklus litosfer. Peranan dari pada fosfor dalam bentuk fosfat didalam bentuk reaksi adalah menyimpan dan melepaskan energi untuk dapat digunakan didalam sel. Ketersediaan fosfat melalui siklus fosfor sering merupakan pembatas didalam produktifitas ekosistem. Melalui proses erosi dan hancurnya batuan, fosfat anorganik dapat dimanfaatkan oleh tanaman yaitu dengan mengambil dari dalam tanah, sedangkan bagi tanaman akuatik, kebutuhan itu dapat diambil melalaui lingkungan akuatik.

            

5.Siklus Sulfur ( Belerang )
            Sulfur merupakan elemen penting didalam pembentukan protein dan berbagai macam kompleks karbohidrat- protein. Siklus sulfur merupakan siklus yang mengkaitkan tiga komponen biosfer, udara, air dan tanah. Didalam siklus ini, terdapat proses oksidasi dan reduksi yang menghasilkan kunci-kunci pertukaran antar reservoir sulfat yang tersedia didalam tanah dengan sulfida besi yang jauh berada didalam sedimen. Salah satu bentuk umum dari pada sulfida adalah dalam gas, yaitu dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S), dikenal dengan baunya yang tidak sedap.


Tuesday, April 30, 2013

tugas akhir

Sistematika Penyusunan Tugas Akhir

Sama halnya dengan proposal tugas akhir, Tugas Akhir juga terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian isi dan bagian akhir, tetapi isinya lebih luas.

A. BAGIAN AWAL
Bagian awal mencakup halaman judul, sampul depan, halaman judul, halaman pengesahan, abstrak, halaman motto dan persembahan, riwayat hidup, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran.

1. Halaman Sampul Depan
Halaman judul memuat: Judul Tugas Akhir, Maksud dari Tugas Akhir Lambang Perguruan Tinggi, nama dan nomor Pokok atau Induk Mahasiswa, serta institusi yang dituju dan waktu pengajuan.

a. Judul Tugas Akhir dibuat sesingkat-singkatnya (Maksimum 20 Kata), tetapi jelas dan menunjuk dengan tepat masalah yang hendak diteliti, dan tidak membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam.
b. Maksud tugas akhir ialah menyusun Karya Tulis Ilmiah (untuk D3) atau Skripsi (untuk S1) dalam program studi tertentu.
c. Lambang perguruan tinggi yang diambil adalah lambang dari perguruan tinggi dengan diameter menyesuaikan dengan ketentuan masing-masing perguruan tinggi.
d. Nama dan Nomor Induk/Pokok Mahasiswa ditulis lengkap, sesuai dengan nama yang tercantum dalam ijazah SLTA atau pendidikan terakhir sebelumnya.
e. Institusi yang dituju adalah sekolah atau akademi yang diambil oleh mahasiswa.
f. Tahun penyelesaikan skripsi, ialah tahun ujian skirpsi dan ditempatkan di bawah tempat nama Kota/Kabupaten/Provinsi.

2. Halaman Judul
Halaman judul berisi tulisan yang sama dengan halaman samul depan tetapi dicetak di atas kertas putih (HVS ukuran A4 atau Quarto/Letter).

3. Halaman Persetujuan
Halaman ini memuat: judul skripsi, nama dan nomor pokok mahasiswa, program studi, komisi pemimbing dan ketua program studi.

4. Halaman Pengesahan
Halaman ini memuat: judul skripsi, nama dan nomor pokok/induk mahasiswa, program studi, tim penguji, ketua dan tanggal kelulusan.

5. Abstrak
Abstrak berfungsi memberi gambaran secara singkat dan padat akan apa yang dijabarkan dalam skripsi, sehingga pembaca dapat memutuskan perlu tidaknya membaca keseluruhan skripsi. Jadi pada dasarnya abstrak berisi masalah yang akan dibahas dan bagaimana pendekatannya serta hasil yang dicapai. Kata kunci (keywords) adalah kata yang akan digunakan untuk mencari buku pada katalog. Bila kata kunci itu dibaca akan segera mengingatkan orang tentang topik yang akan dibahas. Abstrak jangan melebihi dari 300 kata atau 1 halaman dengan spasi tunggal.

6. Halaman Motto dan Persembahan
Halaman ini berisikan kata-kata mutiara dan lain sebagainya yang dapat menjadi dorongan dan semangat, dan berisi ucapan terima kasih yang ditujukan kepada orang-orang atau pihak-pihak yang ada di luar lingkungan kampus dan objek penelitian yang terlibat atau yang sangat membantu baik secara moril maupun materil dan penyusunan skripsi ini.

7. Riwayat Hidup
Halaman ini berisi data mengenai tempat dan tanggal lahir, nama kedua orangtua peneliti, riwayat pendidikan dan lainnya.

8. Kata Pengantar
Halaman kata pengantar ini mengandung uraian singkat tentang maksud skripsi, penjelasan dan ucapan terima kasih keapda pihak yang dilingkungan kampus dan objek penelitian. Dalam kata pengantar tidak terdapat hal-hal yang bersifat ilmiah.


9. Daftar Isi
Daftar isi dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara menyeluruh tentang sistematika tugas akhir dan sebagai petunjuk bagi pembaca yang ingin langsung melihat suatu bab atau sub bab. Di dalam daftar isi tertera urutan judul bab, judul sub bab, judul anak sub bab disertai dengan nomor halamannya. Bahan-bahan sebelum kata pengantar tidak dicantumkan.

10. Daftar Tabel
Daftar tabel memuat urutan judul tabel beserta dengan nomor halamannya. Daftar ini sifatnya opsional yaitu apabila di dalam tugas akhir yang dibuat terdapat banyak tabel yang perlu diberikan pedoman bagi pembaca.

11. Daftar Gambar
Daftar gambar berisi urutan gambar dan nomor halamannya. Perlu tidaknya suatu daftar gambar tersendiri, sama persyaratannya dengan daftar tabel.


12. Daftar Lampiran
Sama halnya dengan daftar tabel dan daftar gambar, daftar lampiran dibuat bila tugas akihr dilengkapi dengan lampiran yang banyak dan isinya ialah judul lampiran dan nomor halamannya.

B. BAGIAN ISI
Bagian isi tugas akhir terdiri dari 5 bab dengan sistematika sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Latar Belakang berisi pokok-pokok pemikiran tentang masalah yang akan diteliti dan alasan-alasan mengapa masalah yang dikemukakan dalam usulan ini dipandang menarik dan perlu diteliti.
1.2 Identifikasi Masalah
Pada bagian ini perlu ditunjukkan masalah yang akan diteliti berdasarkan data atau fakta yang terjadi. Akan lebih baik lagi bila ditampilkan data-data yang menunjukkan bahwa terjadi masalah pada objek yang akan diteliti.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, makalah masalah dirumuskan dengan menggunakan kalimat tanya atau/kalimar pernyataan. Namun rumusan masalah tersebut harus mampu menunjukkan variabel yang akan diteliti.
1.4 Tujuan Penelitian
Merupakan keadaan yang ingin dicapai (goals/objective atau sasaran) dalam penelitian yang berkaitan erat dengan masalah yang dirumuskan. Tujuan dibagi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum menggambarkan secara keseluruhan maksud dan tujuan diadakannya penelitian sedangkan tujuan khusus merupakan uraian dari masing-masing tujuan secara keseluruhan, baik variabel independen maupun variabel dependennya serta gabungan antara kedua variabel tersebut.
1.5 Manfaat Penelitian
Merupakan dampak setelah tercapainya tujuan. Tuliskan manfaat penelitian, baik dari segi dunia keilmuan, bagi diri sendiri maupun bagi objek penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Berisi uraian tentang telaah penelitian-penelitian sebelumnya dan landasan teori yang berkenaan dengan masalah dan permasalahan yang diangkat.
2.1 Telaah Penelitian
Berisi kutipan-kutipan dari penelitian-penelitian yang terdahulu yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
2.2 Landasan Teori
Berisi teori-teori yang berhubungan dengan masalah yang diteliti yang bersumber dari buku-buku.
2.3 Hipotesis (bila ada)
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari permasalahan yang dihadapi, dan masih harus dibuktikan kebenarannya. Perumusan hipotesis hendaknya dilakukan dengan pernyataan sebab dan akibat atau dengan memberikan suatu penilaian atas gejala-gejala yang terjadi. Bila penelitian hanya terdiri dari satu variabel dinyatakan dalam bentuk pertanyaan penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN
Metode penelitian meliputi: Desan/Rancangan penelitian, variabel penelitian, definisi operasional variabel, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel penelitian, jenis dan sumber data, alat dan teknik pengumpulan data, etika penelitian (bila menggunakan manusia sebagai objek penelitian), pengolahan data, rancangan Uji hipotesis/analisis data, alat dan bahan yang diinputkan.


BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian
Bagian ini dipaparkan tentang objek penelitian khususnya yang berkenaan dengan masalah yang diteliti, gambaran lokasi penelitian, gambaran lokasi penelitian, gambaran masyarakat (bila komunitas) sejarah perkembangan dan gambaran ketenagaan (bila institusi)
4.2 Hasil Penelitian
Pada bagian ini membahas tentang:
a. Data-data yang didapat dari penelitian yang disajikan dalam bentuk daftar (tabel) atau grafik atau diagram atau foto/gambar atau bentuk lainnya.
b. Hasil analisis
4.3 Pembahasan
Pada sub bab ini disampaikan pembahasan tentang hasil analisis baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

BAB V PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan dan penelitian dan saran
5.1 Kesimpulan
a. Dirumuskan berdasarkan hasil pembahasan penelitian pada bab sebelumnya. Janganlah menyimpulkan hal-hal yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
b. Kesimpulan hendaknya disajikan secara singkat dan jelas, namun secara eksplisit dapat menjawab tujuan penelitian.
5.2 Saran
a. Dasar pemberian saran adalah bagian dari kesimpulan yang diambil
b. Hendaknya saran yang akan diberikan bersifat operasional, sehingga manfaat penelitian dapat terlihat terutama bagi objek penelitian.

C. BAGIAN AKHIR
1. Daftar Pustaka
Bagian akhir terdiri atas daftar pustaka yang dijadikan bahan bacaan dalam penyusunan tugas akhir dan disusun ke bawah menurut abjad nama penulis.
2. Lampiran (bila ada)
Dalam lampiran, terdapat keterangan atau informasi yang diperlukan pada pelaksanaan penelitian, misalnya daftar pertanyaan yang sifatnya melengkapi tugas akhir.


Sumber:
 contoh skripsi


1. Definisi konseptual dan definisi operasional
A. Definisi konseptual
Menurut Djalal (1986: 4)  “prestasi belajar siswa adalah gambaran  kemampuan siswa yang diperoleh dari hasil penilaian proses belajar siswa dalam mencapai tujuan pengajaran”
Hamalik (1994: 45) berpendapat bahwa prestasi belajar adalah perubahan sikap dan tingkah laku setelah menerima pelajaran atau setelah mempelajari sesuatu.
Benyamin S. Bloom (dalam Nurman, 2006 : 36), prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah kognitif terdiri atas : pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. 
Saifudin Azwar (1996 :44) prestasi belajar merupakan dapat dioperasionalkan dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai raport, indeks prestasi studi, angka kelulusan dan predikat keberhasilan.  

menurut Nurkencana (1986 : 62)  bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai atau diperoleh anak berupa nilai mata pelajaran. Ditambahkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.

B. Definisi operasional
Dalam penelitiaan ini yang dimaksud dengan prestasi belajar  adalah hasil yang telah dicapai atau diperoleh anak berupa nilai mata pelajaran. Ditambahkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.




Kontraksi
Skala prestasi belajar


Unihaz Warna.jpg



Di susun
O
L
E
H
NAMA: TATANG
NPM: 10070140

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PROF. DR. HAZAIRIN, SH
BENGKULU
2013












TRANSKRIPSI

Transkripsi (dari bahasa Inggris: transcription) adalah proses penyalinan kode-kode genetika yang ada pada urutan DNA menjadi molekul RNA. Transkripsi adalah bagian dari rangkaian ekspresi genetikyang nantinya akan muncul sebagai fenotipe. Urutan nukleotida pada salah satu untaian molekul DNA digunakan sebagai cetakan untuk sintesis molekul RNA yang komplementer. Molekul RNA yang disintesis dalam proses transkripsi pada garis besarnya dapat dibedakan menjadi 3 kelompok molekul RNA, yaitu : mRNA (messenger RNA), tRNA(transfer RNA), dan rRNA (ribosomal RNA).
Proses
Transkripsi berlangsung di dalam inti sel (nukleus) atau di dalam matriks pada mitokondria dan plastida. Proses transkripsi adalah proses sintesa RNA dari template DNA, bedanya basa RNA adalah Urasil (U) sebagai gantinya timin (T). Jadi bila dalam untai DNA A maka hasil transkripsinya adalah U dan bila pada DNA T, maka pada RNA menjadi A, bila pada DNA C maka hasil transkripsi pada RNA adalah G dan sebaliknya. Contoh untai DNA AAACCGGCAAAA maka untai molekul RNA hasil transkripsi adalah RNA UUUGGCCGUUUURNA adalah untai tunggal, komplementernya DNA. RNA adalah pembawa pesan DNA urutan basa pada RNA dibaca tiga-tiga disebut kodon, mendiktekan jenis asam amino yang dikode pada tahap translasi. Jadi informasi genetik ditulis sebagai kodon dan ditranslasikan ke dalam rangkaian (urutan) asam aminoEnzim untuk mentranskripsi DNA menjadi RNA disebut RNA polymerase.
Proses transkripsi dimulai ketika enzim RNA polimerase berkontak dengan protein pada DNA yang disebut promotor. Setelah tahap transkripsi dimulai dari proses yang disebut inisiasi, yaitu ketika enzim RNA polimerase bergabung dengan promotor.Pada tiap gen, promotor hanya mengkode untuk mentranskripsi satu untai DNA saja. Bagian yang ditranskripsi berbeda antara satu gen dengan gen lainnya. Tahap transkripsi berikutnya adalah pemanjangan RNA, RNA terpisah atau menjauh dari DNA templatenya, sehingga kedua untai DNA dapat bergabung lagi, dilanjutkan dengan tahap ketiga.Tahap ketiga transkripsi adalah terminasi, yaitu ketika RNA polimerase mencapai urutan basa tertentu yang disebut terminator.
Proses transkripsi menghasilkan tiga jenis RNA, yaitu yang pertama adalah RNA yang mengkode urutan asam amino, disebut RNA pembawa atau mesenger disingkat mRNA, dan dua jenis RNA, yaitu transfer RNA disingkat tRNA sebagai molekul penerjemah dan ribosom disingkat rRNA yang menyediakan diri sebagai tempat atau pabrik pembuat protein, semuanya berperanan dalam proses translasi.mRNA yang dihasilkan bukan hanya untai dari informasi genetik dari DNA, tetapi masing-masing ujungnya diperpanjang dengan untai selain berita genetik pada proses transkripsi yang diperlukan untuk proses translasi nantinya.Berita genetik ditranslasi dalam sitoplasma. Pada prokariot semua transkripsi dan translasi terjadi dalam sitoplasma.
MEKANISME TRANSKRIPSI PADA PROKARYOT
Transkripsi pada dasarnya adalah proses penyalinan urutan nukleotida yang terdapat pada molekul DNA. Dalam proses transkripsi, hanya salah satu untaian DNA yang disalin menjadi urutan nukleotida RNA (transkip RNA). Urutan nukleotida pada transkrip RNA bersifat komplemeterdengan urutan DNA cetakan (DNA template), tetapi identik dengan urutan nukleotida DNA pada untaian pengkode (coding DNA strand/nontemplate strand). Hal ini dapat digambarkan dengan skema sederhana berikut ini: 5’-ATG GTC CTT TAC TTG TCT GTA TTT -3’ Untaian DNA pengkode
3’-TAC CAG GAA ATG AAC AGA CAT AAA -5’ Untaian DNA cetakan
 Transkripsi
5’-AUG GUC CUU UAC UUG UCU GUA UUU -3’ RNA hasil transkripsi
Perlu diingat bahwa pada struktur RNA tidak ada nukleotida T (thymine), karena struktur T digantikan oleh  U (uracil). Nukleotida T dan U mempunyai cincin yang serupa yaitu cincin pirimidin, tetapi pada basa T ada gugus metil (CH3) pada atom C nomor 5, sedangkan pada basa U tidak ada gugus metil.
Secara umum proses transkripsi pada prokaryot berjalan serupa dengan transkripsi pada eukaryot, meskipun ada beberapa rincian proses yang berbeda antara kedua system tersebut. Pada prokaryot, transkripsi dimulai dengan penempelan RNA polimerase holoenzim  pada bagian promoter suatu gen. pada awal penempelan, RNA polimerase masih belum terikat secara kuat dan struktur promoter masih dalam keadaan tertutup (closed promoter complex). Selanjutnya, RNA polimerase akan terikat secara kuat dan ikatan hydrogen molekul DNA pada bagian promoter mulai terbuka (membentuk struktur open promoter complex). Pada prokaryot, RNA polimerase menempel secara langsung pada DNA di daerah promoter tanpa melalui suatu ikatan dengan protein lain. Dalam proses penempelan promoter tersebut, subunit σ berperan dalam menemukan bagian promoter suatu gen sehingga RNA polimerase dapat menempel. Diduga, proses pengenalan suatu promoter oleh RNA polimerase diawali dengan penempelan enzim tersebut secara tidak spesifik pada molekul DNA. Selanjutnya, RNA polimerase akan mencari bagian DNA yang mempunyai struktur khas suatu promoter. Struktur khas tersebut berupa suatu kelompok ikatan hydrogen anatara kedua untaian DNA pada posisi -35 dan -10. kecepatan suatu polimerase dalam menemukan promoter diperkirakan mencapai 1.000 pasangan basa per detik.
Setelah RNA polimerase menempel pada promoter, subunit σ melepaskan diri dari struktur holoenzim. Pelepasan subunit σ biasanya terjadi setelah terbentuk molekul RNA sepanjang 8-9 nukleotida. RNA polimerase inti yang sudah menempel pada promoter akan tetap terikat kuat pada DNA sehingga tidak lepas. Ikatan ini sangat penting dalam proses transkripsi selesai.
Inisiasi Transkripsi
Tahapan proses inisiasi transkripsi meliputi 4 langkah yaitu: (1) pembentukan kompleks promoter tertutup, (2) pembentukan kompleks promoter terbuka, (3) penggabungan beberapa nukleotida awal (sekiatar 10 nukleotida), dan (4) perubahan konfirmasi RNA polimerase karena subunit σ dilepaskan dari kompleks holoenzim. Subunit σ tersebut selanjutnya dapat digunakan lagi dalam proses inisiasi transkripsi selanjutnya. Bagian DNA yang terbuka setelah RNA polimerase menempel biasanya terjadi pada daerah sekitar -9 sampai +3 sehingga menjadi struktur untai tunggal. Bagian DNA yang berkaitan dengan RNA polimerase membentuk suatu struktur gelembung transkripsi (transcription bubble) sepanjang kurang lebih 17 pasang basa. Setelah struktur promoter terbuka secara stabil, maka selanjutnya RNA polimerase melakukan proses inisiasi transkripsi dengan menggunakan urutan DNA cetakan sebagai panduannya. Dalam proses transkripsi, nukleotida RNA digabungkan sehingga membentuk transkrip RNA. Nukleotida pertama yang digabungkan hampir selalu berupa molekul purin. Kajian pada 88 promoter menunjukkan bahwa 51% molekul RNA diawali dengan basa A, 42% diawali dengan G, 5% diawali dengan C, dan 2% diawali dengan U. pada awalnya basa-basa RNA yang digabungkan membentuk ikatan hidrogen dengan basa DNA cetakan, sehingga jika urutan DNA cetakan adalah ATG, maka basa RNA yang digabungkan adalah UAC.
Subunit σ mempunyai peranan dalam menstimulasi inisiasi transkripsi tetapi tidak mempercepat laju pertambahan untaian RNA. Proses inisiasi transkripsi merupakan prose yang menentukan laju transkrpisi. Inisiasi transkripsi dapat dihambat oleh pemberian antibiotic rifampisin, tetapi antibiotic ini tidak menghambat proses pemajangan transkrip. Penelitian yang dilakukan oleh Alfred Heil dan Walter Zilig pada tahun 1970 membuktikan bahwa subunit RNA polimerase yang menentukan kepekaan atau ketahanan terhadap antibiotik rifampisin adalah subunit β.
Setelah proses inisiasi transkripsi terjadi, selanjutnya subunit σ terlepas dari enzim inti dan dapat digunakan oleh enzim inti RNA polimerase yang lain.siklus subunit σ tersebut pertama kali diungkapkan oleh Travers dan Burgess pada tahun 1969. Mereka menunjukan bahwa jika transkripsi berlangsung pada kekuatan ionic yang rendah, maka RNA polimerase inti tidak terlepas dari DNA cetakan pada ujung suatu gen. Hal ini menyebabkan inisiasi transkrisi berhenti. Jika ke dalam  sistem tersebut dimasukkan  RNA polimerase inti yang baru maka, transkripsi kemudian berjalan kembali. Keadaan ini menunjukkan bahwa RNA polimerase inti yang baru tersebut kemudian bergabung dengan subunit σ yang sebelumnya telah dilepaskan dari enzim RNA polimerase inti lainnya.
Proses Pemanjangan Transkrip
Pada bagian gelembung transkripsi, basa-basa molekul RNA membentuk hibrid dengan DNA cetakan sepanjang kurang lebih 12 nukleotida. Hibrid RNA-DNA ini bersifat sementara sebab setelah RNA polimerasenya berjalan, maka hibrid tersebut akan terlepas dan bagian DNA yang terbuka tersebut akhirnya akan menutup lagi. RNA polimerase akan berjalan membaca DNA cetakan untuk melakukan proses pemanjangan (elogation) untaian RNA. Laju pemanjangan maksimum molekul transkrip RNA sekitar anatara 30 samapai 60 nukleotida perdetik, meskipun laju rata-ratanya dapat lebih rendah dari nilai ini. Secara umum, berdasarkan atas nilai laju semacam ini, suatu gen yang mengkode protein akan disalin menjadi RNA dalam waktu sekitar satu menit. Meskipun demikian, laju pemanjangan transkrip dapat menjadi sangat rendah (sekitar 0,1 nekleotida perdetik) jika RNA polimerase melewati sisi jeda (pause site) yang biasanya mengandung banyak basa GC. Proses pemanjangan transkrip dapat dihambat oleh antibioticstreptoligin. Kepekaan atau ketahanan terhadap streptoligin juga ditentukan oleh subunit β pada RNA polimerase.
Dalam pemanjangan transkrip, nukleotida ditambahkan secara kovalen pada ujung 3’ molekul RNA yang baru terbentuk. Nukleotida RNA yang ditambah tersebut bersifat komplementer dengan nukleotida pada untaian DNA cetakan. Sebagai contoh, jika nukleotida pada DNA cetakan adalah A, maka nukleotida RNA yang ditambahkan adalah U.
Dalam proses pemanjangan transkrip ada dua hipotesis yang diajukan mengenai perubahan topologi DNA. Hipotesis pertama menyatakan bahwa enzim RNA polimerase bergerak melingkari untaian DNA sepanjang perjalananya. Dengan cara demikian maka dapat dihindari terjadinya pelintiran pada stuktur DNA, tetapi untaian RNA hasil transkripnya akan melintir sepanjang untaian DNA. Sebaliknya, hipotesis kedua menyatakan bahwa enzim RNA polimerase bergerak lurus sepanjang untaian DNA sehingga RNA yang terbentuk tidak mengalami pelintiran, tetapi untaian DNA yang ditranskripsi harus mengalami puntiran. Untaian DNA yang ada di depan RNA polymerase akan membuka sedangkan DNA yang berada di belakangnya akan memutir kembali untuk menutup.
Dalam proses pemanjangan transkrip RNA, demikian juga pada proses inisiasi sintesis RNA, terjadi pembentukan ikatan fosfodiester antara nukleotida RNA yang satu dengan nukleotida berikutnya. Pembentukan ikatan fosfodiester tersebut ditentukan oleh keberadaan subunit β pada RNA polimerase. Transkripsi akan berakir pada saat RNA polimerase mencapai ujung gen yang disebut terminator. Pada bakteri E. coli ada dua macam terminator yaitu: (1) terminator yang tidak tergantung pada protein rho (rho-dependent terminator), dan (2)terminator yang tergantung pada protein rho(rho-independent terminator).
Pengakhiran Transkripsi yang Tidak Tidak Tergantung pada Faktor Rho
Pengakhiran terminasi yang tidak tergantung pada rho dilakukan tanpa harus melibatkan suatu protein khusus, melainkan ditentukan oleh adanya suatu urutan nukleotida tertentu pada bagian terminator. Sinyal yang akan mengakhiri transkripsi dengan mekanisme semacam ini ditentukan oleh daerah yang mengandung banyak urutan GC yang dapat membentuk struktur batang dan lengkung (stem-and-loop) pada RNA dengan panjang sekitar 20 basa di sebelah hulu dari ujung 3’ –OH dan diikuti oleh rangkaian 4-8 residu uridin berurutan. Struktur batang lengkung tersebut menyebabkan RNA polimerase berhenti dan merusak bagian 5’ dari hibrid RNA-DNA. Bagian sisa hibrid RNA-DNA tersebut berupa urutan oligo (rU) yang tidak cukup stabil berpasangan dengan dA. Akibatnya ujung 3’ hibrid tersebut akan terlepas sehingga transkripsi berakhir. Eksperimen yang dilakukan oleh Peggy Farnham dan Terry Platt menunjukkan bahwa pengakhiran transkripsi tanpa melibatkan factor rho mempunyai 2 ciri utama, yaitu, (1) adanya rangkaian basa berulang-balik (inverted repeat) yang dapat membentuk lengkungan, dan (2) adanya rangkaian basa T pada untaian DNA bukan cetakan (nontemplate strand) sehingga membentuk pasangan basa yang lemah antara rU-dA yang menahan transkrip RNA pada untaian DNA cetakan. Pada waktu lengkungan RNA terbentuk, maka RNA polimerase  berhenti dan ikatan basa yang lemah menyebabkan RNA yang baru terbentuk akan lepas.
Pengakhiran Transkripsi yang Tergantung pada Faktor Rho
Mekanisme pengakhiran transkripsi semacam ini memerlukan protein ρ (rho). Pengakhiran transkripsi yang memerlukan faktor rho hanya terjadi pada daerah jeda yang terletak pada jarak tertentu dari promoter. Dengan demikian jika ada daerah jeda yang terletak di dekat promoter, maka daerah itu tidak dapat berfungsi sebagai daerah pengakhiran transkripsi. Terminator yang tergantung pada rho terdiri atas suatu urutan berulang-balik yang dapat membentuk lengkungan (loop), tetapi tidak ada rangkaian basa T seperti pada daerah terminator yang tidak melibatkan faktor rho. Faktor rho diduga ikut teriakat pada transkip dan mengikuti pergerakan RNA polimerase sampai akhirnya RNA polimerase  berhenti pada daerah terminator yaitu sesaat setelah menyintesis lengkungan RNA. Selanjutnya, faktor rho menyebabkan destabilitasasi ikatan RNA-DNA sehingga transkrip RNA terlepas dari DNA cetakan.
MEKANISME TRANSKRIPSI PADA EUKARIOTIK
            Secara umum mekanisme pada eukariotik serupa dengan yang terjdi pada prokariotik. Proses transkripsi diawali (diinisiasi) oleh proses penempelan faktor-faktor transkripsi dan kompleks enzim RNA polimerase pada daerah promoter. Faktor transkripsi dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu (1) faktor transkripsi umum, dan (2) faktor transkripsi yang khusus suatu gen. Faktor transkripsi umum mengarahkan polimerase ke promoter. Penempelan RNA polimerase pada promoter oleh faktor transkkripsi umum hanya menghasilkan transkripsi pada dasar (basal level). Pengaturan transkripsi yang lebih spesifik dilakukan oleh faktor transkripsi yang khusus untuk suatu gen. Meskipun demikian, proses penempelan tersebut sangat vital bagi keberlangsungan proses transkripsi. Setelah faktor-faktor transkripsi yang umum dan polimerase menempel pada promoter, selanjutnya akan terjadi pembentukan kompleks promoter terbuka (open promoter complex). Transkripsi dimulai pada titik awal transkripsi (RNA initiation site, RIS) yang terletak beberapa nukleotida sebelum urutan kodon awal ATG.
Pada eukariotik terdapat tiga kelas gen, yaitu gen kelas I, gen kelas II, dan gen kelas III yang masing-masing dikatalisis oleh RNA polimerase dan faktor transkripsi yang berbeda.

Proses transkripsi pada eukaryot

Proses transkripsi secara umum

Perbedaan Transkripsi Pada Prokariot Dan Transkripsi Pada Eukariot
Transkripsi Pada Prokariot
1. Pada prokariot, gen terdiri atas 3 bagian utama : daerah pengendali (promoter); bagian struktural dan terminator. Promoter merupakan bagian gen yang berperanan dlm mengendalikan proses transkripsi dan terletak pada ujung 5’.
Promoter pd prokariot juga terdiri atas operator. Bagian Struktural adalah bagian gen yang terletak disebelah hilir (downstream) dari promoter. Bagian inilah yg mengandung urutan DNA spesifik (kode-kode genetik) yg akan ditranskripsi.
Terminator adalah bagian gen yg terletak disebelah hilir dari bagian struktural yg berperanan dlm pengakhiran (terminasi) proses transkripsi. Fungsi terminator adalah memberikan sinyal pd enzim RNA polimerase agar menghentikan proses transkripsi. Proses terminasi transkripsi pd prokariot dpt dikelompokkan menjadi 2 kelas, yaitu 1) terminasi yg ditentukan oleh urutan nukleotida tertentu (rho-independent) dan 2) diatur oleh suatu protein (faktor rho) atau disebut rho-dependent.
2. Gen pada prokariot diorganisasikan dalam struktur operon. Contoh : operon lac (operon yg mengendalikan kemampuan metabolisme laktosa pada bakteri Escherichia coli). Adanya sistim operon karena satu promotor mengendalikan seluruh gen struktural.
3. Saat ditranskripsi, operon lac menghasilkan satu mRNA yg membawa kode-kode genetik untuk 3 macam polipeptida yg berbeda : mRNA polisistronik, artinya dalam satu transkrip dapat terkandung lebih dari satu rangkaian kodon (sistron) untuk polipeptida yang berbeda. Dengan demikian, masing-masing polipeptida akan ditranslasi secara independen dari satu untaian mRNA yg sama.
4. Ciri utama gen struktural pd prokariot adalah mulai dari sekuens inisiasi translasi (ATG) sampai kodon terakhir sebelum titik akhir translasi (kodon STOP yaitu TAA/TAG/TGA) akan diterjemahkan menjadi rangkaian asam amino.
Jadi, jika gen struktural terdiri atas 900 nukleotida maka gen tersebut akan mengkode 300 asam amino karena satu asam amino dikode oleh tiga sekuens nukleotida yang berurutan. Jadi, pada prokariot tidak ada intron (sekuens penyisip) kecuali pada beberapa archaea tertentu.
5. Pada prokariot, RNA polimerase menempel secara langsung pada DNA di daerah promoter tanpa melalui suatu ikatan dengan protein lain (yang membedakan dengan eukariot)
6. Pada prokariot, proses transkripsi dan translasi berlangsung hampir secara serentak, artinya sebelum transkripsi selesai dilakukan, translasi sudah dpt dimulai.
7. Urutan nukleotida RNA hasil sintesis adalah urutan nukleotida komplementer dengan cetakannya. Misal : urutan ATG pada DNA, maka hasil transkripsinya adalah UAC. Molekul DNA yg ditranskripsi adalah untai ganda, namun yang berperanan sebagai cetakan, hanya salah satu untaiannya
8. Tahapan transkripsi pada prokariot meliputi:
1) inisiasi transkripsi (terbentuk gelembung transkripsi),
2) pemanjangan
3) terminasi (tergantung faktor rho dan tidak tergantung faktor rho)
Transkripsi pada eukariot
1. Gen eukariot dibedakan 3 kelas yaitu: Gen kelas I meliputi gen-gen yg mengkode 18SrRNA, 28SrRNA dan 5,8SrRNA (ditranskripsi oleh RNA polimerase I);
Pada gen kelas I terdapat dua macam promoter yaitu promoter antara (spacer promoter) dan promoter utama. Gen kelas II : meliputi semua gen yg mengkode protein dan bbrp RNA berukuran kecil yg terdpt di dlm nukleus (ditranskripsi oleh RNA polimerase II); Promoter gen kelas II terdiri atas 4 elemen yaitu sekuens pemulai (initiator) yg terletak pd daerah inisiasi transkripsi, elemen hilir (downstream) yg terletak disebelah hilir dari titik awal transkripsi, kotak TATA dan suatu elemen hulu (upstream) Gen kelas III : meliputi gen-gen yg mengkode tRNA, 5S rRNA dan bbrp RNA kecil yg ada di dlm nukleus (ditranskripsi oleh RNA polimerase III). Sebagian besar gen kelas III merupakan suatu cluster dan berulang
2. Tidak dikenal adanya sistim operon karena satu promotor mengendalikan seluruh gen struktural.
3. Gen pada eukariot bersifat monosistronik artinya satu transkrip yg dihasilkan hanya mengkode satu macam produk ekspresi (satu mRNA hanya membawa satu macam rangkaian kodon untuk satu macam polipeptida).
4. Pada gen struktural eukariot, keberadaan intron merupakan hal yang sering dijumpai meskipun tidak semua gen eukariot mengandung intron.
5. Mekanisme transkripsi pada eukariot pada dasarnya menyerupai mekanisme pada prokariot. Proses transkripsi diawali (diinisiasi) oleh proses penempelan faktor-faktor transkripsi dan kompleks enzim RNA polimerase pd daerah promoter. RNA polimerase eukariot tidak menempel secara langsung pada DNA di daerah promoter, melainkan melalui perantaraan protein-protein lain, yg disebut faktor transkripsi (transcription factor = TF). TF dibedakan 2, yaitu : (1) TF umum dan (2) TF yg khusus untuk suatu gen. TF umum dalam mengarahkan RNA polimerase II ke promoter adalah TFIIA, TFIIB, TFIID, TFIIE, TFIIF, TFIIH, TFIIJ.
6. Pada eukariot, proses transkripsi dan translasi tidak berlangsung secara serentak. Transkripsi berlangsung di dalam nukleus , sedangkan translasi berlangsung di dlm sitoplasma (ribosom). Dengan demikian, ada jeda waktu antara transkripsi dengan translasi, yg disebut sebagai fase pasca-transkripsi.
Pada fase ini, terjadi proses :
1). Pemotongan dan penyambungan RNA (RNA-splicing);
2). Poliadenilasi (penambahan gugus poli-A pada ujung 3’mRNA);
3). Penambahan tudung (cap) pada ujung 5’ mRNA dan
4). Penyuntingan mRNA
7. Gen eukariot mempunyai struktur berselang-seling antara sekuens yang mengkode suatu urutan spesifik (ekson) dan sekuens yg tidak mengkode urutan spesifik (intron).