Followers

Wednesday, June 20, 2012

makalah mortum


Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga Makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam pembelajaran tentang morfologi tumbuhan.
Harapan kami semoga Makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi Makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik lagi.

            Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
Makalah ini.


Bengkulu, oktober 2011

penulis










Daftar Isi
Kata Pengantar …………………………………………………………………………
Daftar Isi …………………………………………………………………………………
BAB I. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang ………………………………………………………….….
1.2 .Perumusan Masalah……………………………………………………….
1.3. Tujuan Masalah……………………………………………………………..
BAB II. Pembahasan
A.   Tembuni (Plantae)………………………………………………………….
B.   Bakal biji (ovum)……………………………………………………………
C.   Tangkai Kepala putik (Stylus)……………………………………………
D.   Kepala Putik (Stigma)………………………………………………………
E.   Kelenjar Madu (Nectarium)………………………………………………..
F.   Penyerbukan (Pollinatio) dan Pembuahan (Fertilisatio)……………..
G.  Diagram Bunga………………………………………………………………
H.   Rumus Bunga…………………………………………………………………
BAB III. Penutup
A.   Kesimpulan.........................................................................................
B.   Saran……………………………………………………………………………
Daftar Pustaka






BAB 1 Pendahuluan
1.1              Latar Belakang
Bakal biji itu dalam bakal buah terdapat pada bagian khusus yang menjadi pendukung bakal biji tadi. Bagian bakal buah yang menjadi pendukung bakal  biji atau menjadi tempat duduknya bakal-bakal biji dinamakan tembuni (placenta). Letak tembuni (jadi juga bakal bijinya) di dalam bakal buah berbeda-beda. Dalam menyebutkan letak tembuni seringkali diperhatikan pula letak tembuni itu pada daun buah yang menjadi penyusun bakal buah tadi.
Bakal biji atau calon biji sendiri duduk pada tembuni dengan cara yang berbeda-beda pula. biji terdapat dalam bakal buah, yang merupakan badan yang tertutup, jadi bakal biji tidak tampak dari luar.
Tangkai kepala putik itu berbentuk benang sari atau buluh yang dalamnya berongga, mempunyai saluran tangkai kepala (Canalis stylinus) atau tidak.umumnya tangkai kepala putik mudah dibedakan dari tangkai sari, karena kebanyakan lebih besar. Bunga merupakan organ tumbuhan yang nantinya akan menjadi buah dan didalam buah nanti akan terjadi biji, dan didalam bijilah terdapat calon tumbuhan baru, yaitu lembaga. Diagram bunga ialah suatu gambar proyeksi pada bidang datar dari semua bagian bunga yang dipotong melintang.

1.2              Rumusan Masalah

Berdasarkan judul dan latar belakang diatas, maka yang merupakan masalah didalamnya adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana cara menentukan letak bakal biji , penyerbukan dan pembuahan?
2.      Bagaimana menentukan rumus bunga dan membuat diagram bunga ?

1.3              Tujuan masalah
Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan makalah ini adalah :
1.      Supaya kita dapat mengetahui bagaimana cara membuat diagram bunga ataupun rumus bunga.
2.      Agar kita dapat  menjelaskan penerapan morfologi dan dapat mengetahui letak bakal biji, benang sari, kepala putik dan lain-lain.

BAB II. PEMBAHASAN
A.Tembuni (Placenta)
Didalam bakal buah terdapat calon-calon biji yang dinamakan bakal biji, yang berjumlahh satu atau lebih. Bakal biji itu dalam bakal buah terdapat pada bagian khusus yang menjadi pendukung bakal biji tadi. Bagian bakal buah yang menjadi pendukung bakal  biji atau menjadi tempat duduknya bakal-bakal biji dinamakan tembuni (placenta).
Letak tembuni (jadi juga bakal bijinya) di dalam bakal buah berbeda-beda. Dalam menyebutkan letak tembuni seringkali diperhatikan pula letak tembuni itu pada daun buah yang menjadi penyusun bakal buah tadi.
                          Gambar. Perlekatan daun-daun buah dan letak bakal biji     

Menurut letaknya, tembuni dibedakan dalam :
Ø  Marginal (marginalis), bila letaknya pada tepi daun buah,
Ø  Laminal (laminalis), bila letaknya pada helaian daun buahnya.

Untuk bakal buah yang hanya terdiri atas satu ruang, maka kemungkinan letak tembuninya adalah :
Ø  Pariental (parietalis), yaitu pada dinding bakal-bakal buah, yang jika diperhatikan pula bagaimana letaknya pada daun buah, dapat dibedakan lagi dalam dua macam :
ü  Pada dinding di tepi daun buah (parietali-marginalis)
ü  Pada dinding di helaian daun buah (parietalis-lamina)
Ø  Sentral (centraliis atau axlis), yaitu di pusat atau di poros , bila tembuni terdapat di tengah-tengah rongga bakal buah yang beruang satu , biasanya berbentuk buluh atau siilinder dengan  bakal-bakal bijinya menghadap ke semua jurusan (menghadap kea rah dinding bakal buah),
Ø  Aksilar (axillaris), yaitu disudut tengah, bila tembuni  terdapat pada bakal buah yang beruang lebih dari pada dua dan tembuni tadi terdapat dalam sudut pertemuan daunn-daun buah yang melipat ke dalam dan merupakan sekat-sekat bakal  buah. Jadi bersifat marginal.

B. Bakal biji (Ovulum)
Bakal biji atau calon biji sendiri duduk pada tembuni dengan cara yang berbeda-beda pula. Pada umumnya pada bakal biji dapat dbedakan bagian-bagian berikut :
Ø  Kulit bakal biji (integumentum), yaitu  lapisan bakal biji yang paling luar, yang kelak akan merupakan kulit biji, bakal biji dapat mempunyai  satu atau dua lapisan kulit bakal biji,
Ø  Badan bakal biji atau nuselus (nucellus), yaitu jaringan yang diselubungi oleh kulit bakal biji tadi,
Ø  Kandung lembaga (saccus embryonalis), sebuah sel dalam nuselus  yang mengandung sel telur (ovum), dan kalau sudah terjadi pembuahan (peleburan  sel telur dengan inti kelamin jantan), akan menjadi lembaga (embryo) yaitu calon invidu baru.
Ø  Liang bakal biji (micropyle), yaitu suatu liang pada kulit bakal biji, yang menjadi jalan inti kelamin jantan yang berasal dari buluh serbuk sari untuk dapat bertemu dengan sel telur yang terdapatdalam kandung lembaga, sehingga dapat berlangsung peristiwa pembuahan.
Ø  Tali pusar (Funiculus), pendukung bakal biji yang menghubungkan bakal biji dengan tembuni.
Mengenal letak bakal biji pada tembuni dapat dibedakan lima posisi utama yaitu,
1.      Tegak
2.      Mengangguk
3.      Bengkok
4.      Setengah mengangguk
5.      Melipat
Gambar. kedudukan bakal-bakal biji
Dalam hal seperti ini diuraikan diatas, bakal biji terdapat dalam bakal buah, yang merupakan badan yang tertutup, jadi bakal biji tidak tampak dari luar. Semua tumbuhan dengan bakal biji yang tersembunyi didalam bakal buah dijadikan satu golongan yang dinamakan tumbuhan biji tertutup (Angiospermae). Dan tumbuhan lain dengan bakal biji yang tampak dari luar merupakan golongan lain yang dinamakan tumbuhan biji telanjang atau tumbuhan biji terbuka (Gymnospermae).

C. Tangkai Kepala Putik (Stylus)
Tangkai kepala putik merupakan bagian putik yang biasanya terbentuk benang dan merupakan kelanjutan bakal buah keatas. Tangkai kepala putik juga merupakan suatu bagian daun buah, oleh sebab itu pada bakal buah yang tersusun atas beberapa daun buah, seringkali tampak diatasnya sejumlah tangkai kepala putik yang sesuai dengan jumlah daun buah penyusun bakal buahnya, karena tiap daun buah keatas membenttuk satu tangkai kepala putik. Tangkai kepala putik itu berbentuk benang sari atau buluh yang dalamnya berongga, mempunyai saluran tangkai kepala (Canalis stylinus) atau tidak.umumnya tangkai kepala putik mudah dibedakan dari tangkai sari, karena kebanyakan lebih besar.






Gambar . daun buah pakis haji dengan sejumlah bakal biji pada tepinya.
Adakalanya tangkai kepala putik masih memperlihatkan asalnya sebagai metamorphosis daun, yaitu mempunyai bentuk yang pipih lebar seperti daun, misalnya pada bunga tasbih (Canna sp). Tangkai kepala putik ada yang bercabang ada yang tidak, dan jika bercabang, tiap ujung cabang tangkai kepala putik itu mendukung satu kepala putik , jadi pada tangkai kepala putik yang bercabang terdapat lebih banyak kepala putik dari pada tangkai kepala putiknya.
D. Kepala Putik (Stigma)
Kepala putik adalah bagian putik yang paling atas, yang terdapat pada ujung tangkai kepala putik atau ujung cabang tangkai kepala putik. Bagian ini berguna untuk menangkap serbuk sari, jadi mempunyai peranan yang penting dalam penyerbukan.
Bentuk kepala putik beraneka ragam, biasanya disesuaikan dengan cara penyerbukan pada bunga yang bersangkutan .
Ø  Seperti benang, misalnya pada bunga jagung (Zea mays L,)
Ø  Seperti bulu ayam, pada bunga padi (Oryza sativa L.)
Ø  Seperti bulu-bulu, misalnya pada bunga kecipir (Psophocarpus tetragonolobus D.C)
Ø  Bulat, misalnya pada bunga jeruk (Citrus sp.)
Ø  Bermacam-macam bentuk lain lagi, misalnya seperti bibir,seperti cawan,serupa daun mahkota,dst.








Gambar. Kepala putik berbentuk bulu


E. Kelenjar Madu (Nectarium)
Berbagai jenis tumbuhan mempunyai bunga yang menghasilkan madu, dan oleh karenanya bunga itu lalu mendapat kunjungan berbagai macam binatang (serangga, burung) untuk mendapatkan madu tadi.
Dengan demikian dapat kita ketahuai, bahwa madu (nectar) yang dihasilkan oleh bunga, bagi tumbuhanya sendiri mempunyai arti yang penting, yaitu menyebabkan adanya kunjungan binatang yang dapat menjadi perantaraan dalam proses penyerbukan, dan dengan itu, ikut memainkan peranan dalam menjamin terjadinya keturunan baru yang seterusnya akan menjamin kelestarian jenis tumbuhan itu diatas bumi ini.





Gambar . Nectarium.
Madu yang terdapat pada bunga biasanya dihasilkan oleh kelenar madu (nectarium), yang berdasarkan asalnyadapat dibedakkan dalam:
Ø  Kelenar madu yang merupakan suatu bagian khusus (suatu alat tambahan) pada bunga,
Ø  Kelenar madu yang terjadi dari salah satu bagian bunga yang telah mengalami metamorphosis dan telah berubah pula tugasnya.
Mengenal bentuk dan tempatnya pada bunga pun amat bermacam-macam :
Ø  Seperti subang di bakal buah dan melingkari tangkai kepala putik , misalnya pada bunga jeruk (Citrus sp)
Ø  Seperti cakram pada dasar bunga, disebelah bawah bakal buah, dll
Kelenjar madu yang merupaka metamorphosis salah satu bagian bunga dapat berasal dari :
Ø  Daun mahkota
Ø  Benang sari
Ø  Bagian-bagian lain pada bunga.
Dalam demikian tentu saja letak bagian bunga yang berubah menjadi kelenar madu itu.

F. Penyerbukan dan persarian (Pollinatio) dan pembuahan (fertilisatio)
Bunga merupakan organ tumbuhan yang nantinya akan menjadi buah dan didalam buah nanti akan terjadi biji, dan didalam bijilah terdapat calon tumbuhan baru, yaitu lembaga.
Buah, biji dan lembaga hanya akan terjadi setelah terlebih dahulu pada bunga terjadi peristiwa penyerbukan (pollination) dan pembuahan (fertilisatio). Bunga yang telah siap untuk melakukan (mengalami) peristiwa  tersebut , kepala sarinya pecah atau membuka dan keluarlah serbuk sarinya.
Selama pertumbuhan ini, inti dalam serbuk sari membelah menjadi dua, satu dibagian depan buluh yang menjadi penuntun gerak tumbuh bulu itu kearah bakal biji (inti vegetative), yang kedua (inti generative) lalu membelah lagi menjadi dua inti sperma. Setelah sampai pada liang bakal biji, inti vegetative binasa, dinding buluh bagian itu terlarut dan kedua  inti spermanya dapat menuju kekandung lembaga. Sementara itu dalam kandung lembaga intinya membelah tiga kali secara berurutan sehingga terjadi 8 inti. Dar 8 inti tadi tiga munuju ke tempat yang berhadapan dengan liang bakal biji, dan dari tiga inti itu satu merupakan sel telur (ovum) dan yang kedua dikanan kirinya merupakan pengarak atau pendamping. Tiga inti lainnya menuju kebagian kandung lembaga yang berlawanan dengan liang kandung lembaga (berhadapan dengan bagian bakal biji yang disebut chalaza), dan menjadi bagian yang dinamakan : antipoda. Yang dua lagi menuju ketengah kandung lembaga dan bersatu menjadi yang dinamakan inti kandung lembaga sekunder.  Pembuahan ganda hanya terjadi pada golongan tumbuhan biji tertutup, sedangkan pada tumbuhan biji telanjang tidak ada inti kandung lembaga sekunder, jadi yang dapat mengadakan perkawinan hanya sel telur saja. Oleh sebab itu pada golongan tumbuhan biji telanjang dikatakan hanya ada pada pembuhan tunggal.  
Penyerbukan tidak selalu di ikuti oleh pembuahan. Lazim nya penyerbukan hanya akan di ikuti oleh pembuahan bila tumbuhan di serbuki oleh tumbuhan yang sama atau sejenis.  Meskipun tidak terjadi pembuahan , ada pula kalanya bakal biji dapat berkembang menjadi biji dengan didalamnya terdapat pula lembaga, jadi sel telur dengan tidak di buahi dapat tumbuh menjadi lembaga. Terjadinya lembaga dari sel telur tanpa pembuahan dinamakan parthenogenesis.
Pembentukan calon tumbuhan baru (lembaga) yang di sertai dengan peristiwa perkawinan antara sel telur dengan inti sperma, disebut : amfimiksis (amphimixis), sedangkan pertumbuhan lembaga (calon tumbuhan baru) tanpa ada nya peristiwa perkawinan terlebih dahulu, sebagai lawan amfimiksis disebut : apomiksis (apomixes), jadi parthenogenesis adalah salah satu contoh peristiwa apomiksis. Disamping parthenogenesis, masih ada peristiwa lain-lain yang dapat di golongkan dalam apomiksis antara lain :
1.      Apogami,  yaitu terjadinya lembaga dari salah satu inti dalam kandungan lembaga, tetapi bukan dari sel telur, dan juga tanpa perkawinan.
2.      Pembentukan lembaga yang liar (embrioni adventif), yaitu jika terbentuk lembaga dari salah satu sel pada bakal bii, diluar kandungan lembaga, misalnya dari sel nuselus atau sel integumentum.
Telah diterangkan bahwa yang dinamakan penyerbukan itu adalah jatuhnya serbuk sari pada kepala putik.  Berdasarkan asalnya serbuk sari yang jatuh di kepala putik itu, penyerbukan dapat di bedakan dalam beberapa macam, yaitu :
a.       Penyerbukan sendiri (autogamy) yaitu jika serbuk sari yang jatuh di kepala putik berasal dari bunga itu sendiri.
b.      penyerbukan tetangga (geitonogamy)  yaitu jika serbuk sari yang jatuh di kepala putik berasal dari bunga lain pada tumbuhan itu juga,
c.       Penyerbukan silang (allogamy, xenogami), jika serbuk sari yang jatuh di kepala putik itu berasal dari bunga tumbuhan lain, tetapi masih tergolong dalam jenis yang sama,
d.      Penyerbukan bastar (hibridogamy), jika serbuk sari berasal dari bunga pada tumbuhan lain yang berbeda jenisnya, atau sekurang-kurangnya mempunyai satu sifat beda. Pembastaran dapat dilakukan :
1.      Antara dua tumbuhan yang berbeda parietas atau pembastaran antar parietas, misalnya pembastaran antara pohon mangga golek dengan mangga gadung.
2.      Antara dua jenis tumbuhan atau pembastaran antar jenis (species) misalnya pembastaran antara pohon mangga dengan kuweni.
3.      Antara dua jenis tumbuhan yang berbeda marga (genus) nya atau pembastaran antar marga. Misalnya pembastaran antar Lombok dengan terong.
Pembastaran di lakukan dengan tujuan memperoleh suatu keturunan baru yang mewarisi sifat-sifat yang baik sedangkan sifat yang buruk di binasakan.
Telah disebutkan bahwa penyerbukan sendiri sering kali dapat mengakibatkan munculnya kejala degenerasi, sehingga dapat di cegah atau tidak di mungkinkan sama sekali terjadinya penyerbukan sendiri.  Hal itu terbukti dari adanya hal-hal berikut :
a.       Tumbuhan berumah dua (dioecus), artinya tumbuhan mempunyai bunga jantan dan bunga betina yang letaknya pada dua individu yang berlainan dengan demikian satu-satunya cara penyerbukan yang dapat terjadi adalah penyerbukan silang.
b.      Adanya dikogami (dichogamy),artinya pada satu bunga kepala sari dan kepala putik tidak bersamaan waktu masaknya. Berdasarkan perbedaan waktu masak antara kepala sari dan kepala putik pada bunga yang memperlihatkan dikogami dapat dibedakan :
v  Protandri atau proterandri
v  Protogini atau proterogini
c.       Adanya herkogami (hercogamy) yaitu jika pada bunga yang sempurna, duduknya kepala sari dan kepala putik amat berjauhan satu sama lain.
d.      Adanya heterostili (heterostily) dapat di bedakan dalam :
v  Heterodistili
v  Heterotristili
e.       Adanya peristiwa kemandulan (sterilitas). Bunga yang mempunyai sifat ini walaupun di serbuki, tetapi penyerbukan tidak di ikuti oleh pembuahan.
Baik pada penyerbukan sendiri maupun pada penyerbukan silang, serbuk sari yang di hasilkan dalam kepala sari itu oleh karena sesuatu hal, akhirnya akan sampai pada kepala putik.
Gambar. Heterostili
Menurut vektor atau perantara yang menyebabkkan dapat berlangsungnya penyerbukan, dapat di bedakan dalam beberapa macam :
a.       Penyerbukan dengan perantara angin, jika serbuk sari sampai pada bunga yang di serbuki dengan perantaraan angin. Agar kemungkinan teradinya penyerbukan dengan cara ini besar, dan dengan demikian dapat terjamin keturunan baru, bunga tumbuhan yang bersifat anemofili. Oleh sebab itu penyerbukan secara anemofili lazimnya akan terjadi pada tumbuhan yang mempunyai sifat-sifat bertikut :
1.      Menghasilkan banyak sekali serbuk sari yang kecil, lembut serta kering tidak berlekatan, hingga mudah sekali berterbangan kemana-mana jika tertiup angin,
2.      Kepala putik mempunyai bentuk seperti bulu ayam atau seperti benang,
3.      Bunga sreing kali tidak mempunyai hiasan bunga (kelopak dan mahkota) atau kedua bagian bunga itu amat tereduksi,
4.      Kepala sari tidak melekat erat pada tangkai sari,memudahkan berhamburannya serbuk sari kemana-mana jika ada tiupan angin,
5.      Tempat bunga tidak tersembunyi.
b.      Penyerbukan dengan perantaraan air (hydrophy hewanly). Penyerbukan dengan cara ini hanya mungkin terjadi pada tumbuhan yang hidup di air (hydrophyta), baik yang hidup diair tawar maupun air laut.
c.       Penyerbukan dengan perantaraan binatang (zoidiophyly). Dalam alam banyak sekali terjadi penyerbukan silang yang berlangsung karena adanya pengaruh. Misalnya pada madu. Berbeda dengan bunga yang bersifat anemofili. Bunga yang bersifat zoidofili biasanya mempunyai ciri-ciri berikut :

1.    Mempunyai warna yang menarik
2.    Menghasilkan sesuatu yang menarik atau menjadi makanan binatang
3.    Serbuk sari sering bergumpal-gumpal dan berperekat, sehingga mudah menempel pada tubuh binatang yang mengunjungi bunga tadi.
4.    Kadang-kadang mempunyai bentuk yang khusus, sehingga bunga hanya dapat dikunjungi oleh jenis hewan tertentu saja.
Berdasarkan golongan binatang apa yang dapat menjadi perantara penyerbukan ini, penyerbukan zoidiofili dapat lagi dibedakan dalam :
v  Penyerbukan dengan perantaraan serangga, contohnya kupu-kupu, lebah, kumbang dan lalat.
v  Penyerbukan dengan perantaraan burung (ornitthophyly). Burungpun dapat menjadi perantaraan dalam penyerbukan. Kita dapat menyaksikan sendiri bahwa pohon dadap ,pohon randu hutan dan berbagai tumbuhan lainnya. Jika sedang berbunga ramai sekali dapat kunjungan berbagai jenis burung,misalnya kutilang, cocak dan berbagai burung madu dan burung-burung penghisap madu.
v  Penyerbukan dengan perantaraan kelalawar. Binatang ini juga dapat dianggap menjadi perantara penyerbukan, terutama untuk pohon-pohon yang bunga mekar sore atau malam hari.
v  Penyerbukan dengan perantaraan siput (malacophyly), rupa-rupanya dari golongan siput ada pula yang dapat menjadi perantara dalam penyerbukan.
G. Diagram Bunga
Diagram bunga ialah suatu gambar proyeksi pada bidang datar dari semua bagian bunga yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu digambarkan penampang-penampang melintang daun-daun kelopak  tajuk bunga, benang  sari, dan putik. Perlu diperhatikan, bahwa lazimnya, dari daun-daun kelopak dan tajuk bunga di gambarkan penampang melintang bagian tengah-tengahnya, sedangkan dari benang sari digambarkan penampang kepala sari, dan dari putik penampang melintang bakal buahnya. Dari diagram bunga itu selanjutnya dapatdiketahui pula jumlahmasing-masing bagian bungatadi dan bagaimana letak dan susunannya antara yang satu dengan yang lain.
Dalam diagram bunga, masing-masing bagian harus digambarkan sedemikian rupa, sehingga tidak mungkin dua bagian bunga yang berlainan digambarkan dengan lambing yang sama. Jika kita hendak membuat diagram bunga, kita harus memperhatikan hal-hal berikut :
Ø  Letak bunga pada tumbuhan dalam hubungannya dengan perencanaan suatu diagram, kita hanya membedakan dua macam letak bunga :
·         Bunga pada ujung batang atau cabang (flosterminalis).
·         Bunga yang terdapat dalam ketiak daun (flos axillaris),
Ø  Bagian-bagiann bunga yang akan kita buat diagram tadi tersusun dalam berapa lingkaran,












Gambar . cara membuat diagram bunga
Jika dari bunga yang hendak kita buat diagramnya telah kita tentukankedua hal tersebut, kita mulai dengan membuat sejimmlah lingkaran yang kosentris, sesuai dengan jumlah lingkaran tempat duduk bagian-bagian bunganya.


Dalam menggambar bagian-bagian bunganya sendiri yang harus diperhatikan ialah :
Ø  Berapa jumlah masing-masing bagian bunga tadi.
Ø  Bagaimana susunannya terhadap sesame, bebas satu sama lain,bersetuhan tepinya. berlekatan, atau lain lagi.
Ø  Bagaimana susunannya terhadap bagian-bagian bunga yang lain (daun-daun kelopak terhadap daun-daun tajuk bunga, benang sari, dan daun-daunbuah penyusun putiknya) :berhadapan atau berseling, bebas atau berlekatan dan seterusnya.
Ø  Bagaimana letak bagian-bagian bunga itu terhadap bidang median.
Ternyata, bahwa seringkali bidang median itu membagi bunga dalam dua bagian yang setangkup (simetrik). Bagi bunga yang letaknya pada ujung batang/cabang. Tidak dikenal bidang mediannya, disebelah atas lingkaran yang terluar tidak pula digambar penampang melintang batang (Karena pada bunga yang demikian batang itu akan bersambung dengan tangkai bunga).tetapi pada sebelah bawah biasanya masih ditambahkan gambar penampang melintang daun pelindung (jika ada).
Jadi dengan demikian, pada suatu diagram bunga tidak hanya kita ketahui hal-hal yang menyangkut bagian-bagian bunganya saja. tetapi juga dapat diketahui mengenai letaknyanpada tumbuhan. Bagian-bagian lain pada bunga yang seringkali terdapat menjadi ciri yang khas untuk golongan tumbuhan tertentu dan sewajarnya pula jika dinyatakan pada diagram bunga antara lain :
Gambar. a. diagram bunga aksilar
b. diagram bunga terminal

Ø  Kelompak tambahan (epicalyx), umum terdapat pada tumbuhan suku Malvaceae, misalnya : kapas, kembang sepatu.
Ø  Mahkota (tajuk) tambahan (corona), yang biasa terdapat pada suku Asclepiadaceae, misalnya : biduri.
Dikemukakan pula dalam membicarakan perihal bagian-bagian bunga, bahwa ada bagian-bagian bunga yang mengalami metamorphosis atau tereduksi atau lenyap sama sekali. Bertalian dengan soal ini dalam menyusun diagram bunga kita dapat berpendirian :
Ø  Hanya menggambarkan bagian-bagian bunga menurut apa adanya,
Ø  Membuat diagram bunga yang tidak hanya memuat bagian-bagian yang benar-benar ada, tetapi juga menggambarkan bagian-bagian yang sudah tidak ada, namun menurut teori seharusnya ada.
Dengan demikian kita dapat membedakan dua macam diagram bunga :
Ø  Diagram bunga empirik, yaitu diagram bunga yang hanya memuat bagian-bagian bunga yang benar ada, jadi menggambarkkan keadaan bunga yang sesungguhnya.
Ø  Diagram teoritik, yaitu diagram bunga yang selain menggambarkan bagian-bagian bunga yang sesungguhnya, juga memuat bagian-bagian yang sudah tidak ada lagi, tetapi menurut teori seharusnya ada.

H. Rumus Bunga
Kecuali dengan diagram, susunan bunga dapat pula dinyatakan dengan sebuah rumus yang terdiri atas lambing-lambang, huruf-huruf, dan angka-angka,yang semua itu dapat memberikan gambaran mengenai berbagai sifat bunga beserta bagian-bagiannya.
Lambang yang dipakai dalam rumus bunga memberitahukan sifat bunga yang bertalian dengan simetrinya atau jenis kelaminnya, huruf-huruf merupakan singkatan nama bagian-bagian bunga . disamping itu masih terdapat lambang-lambang lain lagi memperlihatkan hubungan bagian-bagian bunga atau sama lain.
Oleh suatu rumus bunga dapat ditunjukan hal-hal mengenai 4 bagian pokok bunga sebagai berikut :
1.      Kelopak, yang dinyatakan dengan huruf K singkatan kata kalix (calyx), yang merupakan istilah ilmiah untuk kelompak.
2.      Tajuk atau Mahkota, yang dinyatakann denga huruf C singkatan kata corolla (istilah ilmiah untuk mahkota bunga).
3.      Benang- benan sari, yang dinyatakan dengan huruf A, singkatan kata androecium (istilah ilmiah untuk alat-alat jantan pada bunga).
4.      Putik, yang dinyatakan dengan huruf G, singkatan kata gynaecium (istilah ilmiah untuk alat-alat kelamin betina pada bunga).

Jika kelopak dan mahkota sama, baik bentuk maupun warnanya, kita lalu mempergunakan huruf lain untuk menyatakan bagian tersebut, yaitu huruf P, singkatan kata perigonium (tenda bunga). Dibelakang huruf-huruf tadi lalu ditaruhkan angka-angka yang menunjukkan jumlah masing-masing bagian tadi, dan diantara dua bagian  bunga yang digambarkan dengan huruf dan angka itu ditaruh koma.
Jika misalnya mempunyai 5 daun kelopak, 5 daun mahkota, 10 benang sari dan putik yang terjadi dari sehelai daun buah, maka rumusnya adalah :

K5, C5, A10, G1. (bunga merak : Caesalpinia pulcherrima Swartz)

Didepan rumus  hendaknya diberi tanda yang menunjukan simetri bunga. Biasanya hanya diberikan dua macam tanda simetri. Yaitu * untuk bunga yang bersimetri banyak. Dan tanda ↑ untuk bunga yang bersimetri satu. Jadi dalam hal dalam bunga merak, yang bersifat zigomortf, rumusnya menjadi :

↑ K5, C5, A10, G1.

Sedangkan bunga lilia gereja yang bersifat akinomorf rumusnya menjadi :

*P6, A6, G3.

Selain lambang menunjuk simetri pada rumus bunga dapat pula ditambahkan lambang menunjukan jenis kelamin bunga. Untuk bunga banci dipakai lambing  : ¤ untuk bunga jantan dipakai lambing :Ô. Dan untuk bunga betina :ο, lambing jenis kelamin ditempatkan didepan lambang  simetri. Contohnya :

¤ ↑ K5, C5, A10, G1 dan
¤ * P6, A6, G3.

Huruf yang menunjukkan bagian yang tersusun dalam lebih dari pada  satu lingkaran harus ditaruh 2 kali yang menunjukkan jumlah bagian dalam tiap lingkaran dengan tanda + (tanda tambah) diantara kedua angka tadi. Contohnya :

¤ ↑ K5, C5, A5 + 5, G1 dan
¤ * P3 + 3, A6, G3

jika bagian-bagian bunga yang tersusun dalam masing-masing lingkaran itu berlekatan satu sama lain, maka yang menunjukan jumlah bagian bersangkutan ditaruh dalam kurung, contonya :

¤ ↑( K5), C5, A5 + 5, G1 dan
¤ * (P3 + 3), A6, G3

Karena pada bunga merak daun-daun kelopaknya berlekatan satu sama lain, sedangkan pada bunga lilia gereja yang berlekatan daun-daun tenda bunga dan daun-daun buaahnya. Ada untuk kalanya yang berkelekatan adalah dua macam bagian bunga, misalnya : benang-benang sari dan dau-daun mahkota, seperti terdapat pada bunga waru. Dalam keadaan demikan yang ditempatkan dalam kurung adalah kedua huruf beserta angkanya menunjukkan kedua macam bagian bunga yang berlekatan tadi. Untuk jelasnya rumus bunga waru tadi adalah :

¤ * K5, [ C5, A(∞) ], G(5)

Jadi bunga waru yang kita dapaati banyak benang sari yang berlekatan satu sama lain  dan seluruhnya berlekatan lagi dengan daun-daun mahkota. 
Selain lambang-lambang yang telah diuraikan diatas, dalam menyusun suatu rumus bunga masih ada lambang lain lagi, ialah lambang untuk menyatakan duduknya bakal buah (jadi juga putiknya). Untuk bakal buah yang menumpang, dibawah angka menunjukan jumlah daun buah, dibuat suatu garis (bilangan yang menunjukan jumlah daun buah terletak diatas garis), sedangkan untuk bakal buah tenggelam, garis ditaruh diatas angka tadi. Untuk bakal buah yang setengah  tenggelam tidak ada tanda yang khusus, atau dapat ditafsirkan sebagai setengah tenggelam, jika untuk bakal buah tidak ada pernyataan menumpang atau tenggelam.
Dengan demikian, jika dari kedua contoh bunga diatas kita harus membuat rumus bunga yang lengkap, rumus tadi akan menjadi seperti berikut :

¤ ↑ k(5), C5, A5+5, G1
¤  * P(3+3), A3 + 3, G (3)

Setelah kita pahami hal-hal yang menyangkut soal rumus bunga, dapat sekarang keadaan kita balik, artinya jika kiita melihat kedua rumus bunga diatas, maka dapat kita bayangkan, bahwa :
§  Bunga merak adalah bunga yang banci,zigomorf, mempunyai 5 daun kelopak yang berlekatan satu sama lain, 5 daun  mahkota yang bebas, 2 lingkaran benang sari  dengan 5 benang sari dalam masing lingkaran, bakal buah yang terjadi dari sehelai saun buah yang duduknya menumpang,
§  Buunga lilia gereja adalah bunga banci, aktinomorf, mempunyai 6 daun tenda bunga yang tersusun dalam 2 lingkaran tetapi ke 6 daun tenda bunga tadi berlekatan satu sama lain, 6 benang sari yang tersusun dalam dua lingkaran dan satuu bakal buah yang menumpang dan terjadi dari 3 daun buah yang berlekatan.
Mengingat bahwa, urutan-urutan bagian bunga sifatnya tetap, maka dalam menyusun suatu rumus bunga, huruf-huruf yang merupakan singkatan nama bagian bunga tadi sering ditiadakan juga lambang jenis kelamin seringkali ditiadakan, karena jenis kelamin itu dapat terlihat pula dari rumus ialah : jika ada benang sari maupun putik, bearti bunga itu bersifat banci, tetapi jika di belakang A kita dapati angka 0 bearti bunganya betina, sebaliknya jika dalam rumus tertera G 0, bearti bunganya adalah bunga jantan. Dengan ini rumus bunga merak misalnya, dapat kita sederhanakan menjadi :
↑ (5), 5, 5 + 5, 1
Jika kita membandingkan diagram dengan rumus bunga pada diagram dengan rumus bunga, pada diagram lebih banyak tercantum keterangan-keterangan mengenai susunan bagian-bagian bunga, hanya tak dapat diketahui pada diagaram bunga  bagaimana letaknya bakal buah, menumpang, tenggelam, ataukah setengah tenggelam.
Dibawah ini diberikan berbagai contoh diagram beserta rumus bunga berbagai jenis tumbuhan yang tergolong dalam beberapa suku tumbuhan yang lazimnya sudah terkenal.
§  Suku Palmae (Arecaceae) misalnya kelapa (cocos nucifera L.)
Ô K 3, C 3, A(6), G 0
Ο K3, C 3, A 0, G (3)
§  Suku Gramineae (Poaceae), misalnya padi (Oryza sativa L.)
¤ ↑ K 1 + (2), C 2 +0, A 3, G 1
§  Suku Cannaceae, misalnya bunga tasbih (Canna indica Hort.)
¤ K 3, C 3, A 5, G (3)
§  Suku Orchidaceae, misalnya anggerik bulan (Phalaenopsis amabilis Bl.). yang hanya mempunyai 1 benang sari yang subur, dan anggerik kusut (Cypripedium javanicum Rainw.) yang mempunyai 2 benang sari yang subur :
¤ ↑ P 3, + 3, A 1 + 0, G (3)
¤ ↑ P 3 + 3, A 1 + 2, G (3)
§  Suku Liliaceae, misalnya kembang sungsang (Gloriosa superb L.)
¤ * P 3 + 3, A 3 + 3, G (3)
§  Suku Popilionaceae, misalnya orok-orok, kembang telang (Clitoria ternatea L.)
¤ ↑ K (5), C 5, A 1 + (9), G 1
§  Suku Malvaceae, misalnya kapas (Gosssypium sp.), waru (Hibiscus tiliaceus L.) dll
¤ * K (5), [C 5, A (∞), G (5)
§  Suku Bombacaceae, misalnya kapok randu (Ceiba pentandra Gaertn.), durian (Durio zibethinus L.)
¤ * K (5). C 5, A (∞), G (5)
§  Suku Solanaceae, misalnya : kecubung (Datura metel L.), tembakau (Nicotiana tabacum L.), dll.
¤ ↑ K (5), C (5), A 5, G (2)
§  Suku Cruciferae (Brassicaceae), misalnya lobak (Raphanus sativus L.)
¤ * K 4, C 4, A 2, + 4, G (2)
§  Suku Nyctaginaceae, misalnya bunga pagi sore (Mirabbilis jalapa L.)
¤ * K 5, C (5), A 5, G (5)


 Gambar. a. diagram bunga jantan pada palma (palmae)
b. diagram bunga betina pada palma (palmae)




















BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Berdasarkan tujuan penulisan makalah ini maka dapat ditarik tiga kesimpulan, antara lain,  Bagian bakal buah yang menjadi pendukung bakal  biji atau menjadi tempat duduknya bakal-bakal biji dinamakan tembuni (placenta). Letak tembuni (jadi juga bakal bijinya) di dalam bakal buah berbeda-beda. Bagaimana proses terbentuknya penyerbukan dan pembuhan pada bunga,dan kita bisa menentukan jenis/cirri-cirinya dengan menggunakan rumus maupun diagram bunga.
B. Saran
Pembaca dapat menggunakan makalah ini untuk menambah pengetahuan tentang Morfologi Tumbuhan..Sehingga pembaca dapat memperluas pengetahuan mengenai Morfologi Tumbuhan.
 Agar kita mampu mengenal cara-cara mengklasifikasikan berbagai macam tumbuhan.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment